Bos Louis Vuitton Orang Terkaya di Industri Fashion Bos Louis Vuitton Orang Terkaya di Industri Fashion

Louivuittonoutlet.net – Bernard Arnault, CEO Louis Vuitton kini masuk lima besar jajaran orang terkaya di dunia. Hal itu berdasarkan indeks Bloomberg Billionaire. Ia berada di peringkat keempat dalam daftar orang terkaya di dunia.

Berdasarkan data indeks Bloomberg Billionaire, kekayaan Arnault mencapai USD 73,8 miliar atau sekitar Rp 1.015 triliun (asumsi kurs Rp 13.761 per dolar O Amerika Serikat ) pada 11 April 2018. Kekayaan Arnault naik sekitar USD 2,8 miliar. Bahkan dia mencatatkan kenaikan kekayaan terbesar dalam satu hari.

Total kekayaan Arnault tersebut masih di bawah Jeff Bezos, pendiri Amazon. Jeff Bezos masih menduduki peringkat pertama orang terkaya di dunia dengan kekayaan USD 120 miliar atau sekitar Rp 1.651 triliun. Disusul Bill Gates dengan kekayaan USD 91 miliar atau sekitar Rp 1.252 triliun. Kemudian Warren Buffett di posisi ketiga dari daftar orang terkaya di dunia dengan kekayaan USD 84,8 miliar atau sekitar Rp 1.167 triliun.

Arnault mampu geser posisi pendiri Zara yaitu Amancio Ortega yang kini berada di peringkat ke-5 orang terkaya di dunia. Kekayaan Ortega mencapai USD 69,6 miliar atau sekitar Rp 957,82 triliun.

Kemudian disusul Carlos Slim dengan kekayaan USD 67,9 miliar atau sekitar Rp 934,37 triliun. Selain itu Arnault juga mampu menggeser posisi pendiri Facebook Mark Zuckerberg. Total kekayaan Zuckerberg USD 67 miliar atau sekitar Rp 921,96 triliun.

Mengutip laman highsnobiety, Jumat (12/4/2018), dengan jabat posisi sebagai CEO LVMH, Arnault mengawasi 70 merek barang mewah termasuk Louis Vuitton, Givenchy, Celine dan Dior.

Pada 2017, perusahaan bermarkas di Paris ini mencatatkan rekor penjualan 42,6 miliar euro. Angka penjualan Louis Vuitton itu naik 13 persen dari posisi 2016. Permintaan meningkat di wilayah timur diperkirakan membantu kinerja keuangan LVMH.

Selain itu, didukung penguatan euro terhadap dolar Amerika Serikat dan pound sterling. Perseroan juga mampu membuat langkah besar dengan merambah digital. Tahun lalu, perseroan meluncurkan platform belanja barang mewah 24 Sevres.

♦ Intip Kisah Sukses Bos Louis Vuitton
Apa Anda mengenal atau pernah mendengar perusahaan Louis Vuitton? Louis Vuitton merupakan salah satu perusahaan fashion mewah asal Prancis. Di balik kesuksesan berdirinya perusahaan fashion tersebut, terdapat satu sosok yang sangat berpengaruh bernama Bernard Arnault.

Bernard Arnault lahir pada 1949 dan merupakan mahasiswa lulusan Jurusan Teknik. Pada tahun 1970-an, dia mencoba menjalankan bisnis yang dibangun ayahnya. Ia meyakinkan ayahnya bahwa dirinya mampu mengembangkan perusahaan tersebut dengan membuat sektor real estate.

Untuk mewujudkan keinginannya tersebut, dia mencoba bekerja sama dengan beberapa perusahaan mewah, seperti Christian Dior dan Le Bon Marche.

Tak mengecewakan, usahanya tersebut mampu membuahkan hasil manis. Saat ini, ia telah menjadi orang yang sukses, terbukti ia mampu menjadi orang terkaya di Prancis dan bahkan menduduki peringkat ke-7 orang terkaya menurut Forbes. Total kekayaannya saat ini tercatat senilai US$ 64,4 miliar atau Rp 870,47 triliun (kurs US$ 1=Rp 13.516).

Baca Juga : Fakta Menarik Mengenai Brand Mewah Louis Vuitton

♦ Masa Kecil
Bernard Arnault terlahir dengan nama Bernard Jean Etienne Arnault pada 5 Maret 1949 di Roubaix, Prancis. Ayahnya bernama Leon Arnault, adalah seorang kontraktor perusahaan Ferret-Savinel.

Ia mengikuti sekolah Maxence Van Der Meersch di Roubaix, dan setelah lulus ia masuk Ecole Polytechnique dan mendapat gelar teknik pada tahun 1971.

♦ Perjalanan bisnis
Bernard Arnault menjalankan bisnis ayahnya setelah lulus dari perkuliahan. Ia berencana untuk mengembangkan perusahaan tersebut. Terbukti pada tahun 1976, ia sukses mengembangkan perusahaan tersebut dan aset perusahaan naik drastis.

Pada 1974, dia menjadi direktur dan kemudian menjadi CEO pada tahun 1977. Ia juga sukses membuat ayahnya sebagai presiden direktur pada tahun 1979.

♦ Pindah ke AS
Pada tahun 1981, ia bersama keluarganya pindah ke Amerika Serikat karena sosialis Prancis. Di sana, ia juga mengembangkan bisnisnya di Palm Beach, Florida dan membangun kantor cabang di Amerika Serikat.

Kemudian, dia mencoba bekerja sama dengan perusahaan Christian Dior dan Le Bon Marche. Setelah itu, ia menjadi CEO Christian Dior pada tahun 1985.

Pada tahun 1987, dia berinvestasi pada perusahaan LVMH (Louis Vuitton Moet Hennessy) melalui Henri Racamier. Kemudian pada Januari 1989, ia memiliki nilai 43,5% dari aset LVMH yang membuatnya terpilih sebagai CEO dari LVMH.

Setelah menjadi CEO LVMH, ia mencoba mengembangkan perusahaannya bekerja sama dengan perusahaan besar seperti Guerlain, Loewe, Marc Jacobs, Sephora, dan Thomas Pink.

Bernard mengambil alih perusahaan mewah LVMH, yang merupakan suatu ambisi yang besar. Ia menunjukkan kebulatan tekad dalam sistematis untuk mengambil alih perusahaan tersebut.

Perusahaan Bernard saat ini telah banyak menjalankan kegiatan amal seperti peduli sesama manusia, penelitian sains dan medis, peduli anak kecil, dan amal untuk rumah sakit di Paris. Kisah suksesnya menjadi inspirasi bagi para pengusaha fashion di seluruh dunia.

♦ Berikut beberapa penghargaan yang pernah diperoleh Bernard Arnault:
– Commander of the French Legion of Honour pada tahun 2007
– Grand Officer of the French Legion pada tahun 2011
– Corporate Citizenship dari Woodrow Wilson International Center

Fakta Menarik Mengenai Brand Mewah Louis Vuitton Fakta Menarik Mengenai Brand Mewah Louis Vuitton

Louivuittonoutlet.net – Mewah, timeless, dan delicate. Tiga kata ini mungkin jadi deskripsi yang pas untuk menggambarkan brand fashion papan atas Louis Vuitton. Kepopuleran namanya, monogram khasnya, dan bentuk-bentuk ikonisnya membuat siapa saja dijamin ‘hapal’ dan tak asing dengan tampilan produk-produk Louis Vuitton.

Nama brand ini diambil dari nama sang pendiri bernama Louis Vuitton yang lahir pada tahun 1821. Setelah melalui perjalanan karier yang panjang di bidang craftmanship di Prancis, ia pun akhirnya mendirikan perusahaan boks dan koper Louis Vuitton pada tahun 1854.
Kepopuleran Louis Vuitton karena craftmanship dan kualitas-kualitas produknya membuat banyak perusahaan turut menjiplak desain dan ciri khas mereka. Akhirnya, pada tahun 1896, pola monogram Louis Vuitton mulai diperkenalkan. Pola ini begitu ikonis dan sudah melekat selama 123 tahun dalam desain-desain Louis Vuitton.

Bagaimana tidak, monogram yang terdiri dari huruf L dan V yang saling bertautan, pola bunga dengan empat kelopak, dan pola organic bergaya trefoil, dari inspirasi perpaduan gaya Jepang dan desain oriental pada era Victoria ini seringkali menjadi simbol ‘kelas’ dalam lingkungan sosial.

Brand yang telah berdiri sejak 1854 ini menjadi salah satu saksi perkembangan fashion dunia. Berikut akan kami rangkumkan beberapa fakta menarik lainnya dari brand papan atas Louis Vuitton. Apa saja?

➢ 1. Sebelum terkenal karena brand yang diciptakannya, Louis Vuitton adalah seorang laki-laki yang berasal dari keluarga pekerja menengah ke bawah. Ia meninggalkan rumah keluarganya sejak usia 13 tahun untuk mengejar mimpi besarnya ke Paris.

➢ 2. Perjalanan 292 mil atau 470 km dari rumah keluarga yang terletak di daerah Prancis Timur ke Paris, ia lakukan dengan berjalan kaki selama dua tahun lamanya. Perjalanan panjang itu ia lakukan dengan pemberhentian secara berkala untuk melakukan pekerjaan sambilan. Ini cara yang harus dilakukannya untuk menopang kebutuhan dan kehidupan pribadinya.

➢ 3. Sesampainya di Paris pada tahun 1837, Louis Vuitton menemukan pekerjaan di sebuah workshop untuk membuat boks dan kemasan. Kelihaiannya diakui banyak orang. Reputasinya meningkat dan namanya semakin dikenal sebagai pengrajin terhormat. Karena ketrampilannya tersebut, ia ditunjuk sebagai staf khusus yang membuat boks-boks (koper) untuk kebutuhan Eugenie de Montijo, yang merupakan istri dari Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis dari tahun 1804 sampai tahun 1814. Momen inilah yang jadi ‘pintu’ utamanya untuk bergabung dengan kelas-kelas elit Prancis.

➢ 4. Perjalanan kariernya tersebut membuatnya bisa mendirikan perusahaan sendiri pada tahun 1854. Meski perusahaan Louis Vuitton sudah berdiri sejak 1854 sebagai perusahaan boks dan koper traveling, ia baru mulai membuat tas jinjing pada tahun 1892.

Baca Juga : Louis Vuitton dan Cara Membedakan Tas Ori dan KW

➢ 5. Salah satu tas Louis Vuitton paling populer dengan nama ‘Speedy’, pada mulanya sebenarnya diciptakan untuk boks atau koper traveling. Namun, suatu saat Audrey Hepburn, bintang film sekaligus ikon fashion, menelepon pihak Louis Vuitton dan memohon untuk dibuatkan versi mini dari Speedy tersebut. Sontak, kepopuleran tas Speedy ini memuncak dan jadi model tas Louis Vuitton paling populer hingga sekarang.

➢ 6. Selain Speedy, tas ‘Alma’ menjadi salah satu model tas Louis Vuitton yang tak kalah populer. Tas ini sebenarnya didesain khusus atas permintaan pribadi Coco Chanel. Bentuknya yang chic, cantik, dan feminin ini digandrungi oleh setiap perempuan hingga saat ini. Uniknya lagi, tas Louis Vuitton model Alma ini jadi satu-satunya tas yang pernah dijinjing Coco Chanel, selain mereknya sendiri.

➢ 7. Tahukah Anda bahwa proses quality check dari tas Louis Vuitton melalui proses yang sangat panjang? Sebelum dijual, tas Louis Vuitton harus melalui tes ketahanan seperti dimasukkan benda berat seberat 3,5 kg dan dijatuhkan dari ketinggian setengah meter selama empat hari berturut-turut. Tidak sampai di situ, zipper dari tasnya pun harus terus menerus dibuka-tutup sebanyak 5,000 kali untuk memastikan ketahanannya. Wow!

➢ 8. Fakta yang satu ini mungkin akan menyakitkan bagi sebagian Anda. Semua tas dan sepatu Louis Vuitton yang tak terjual, akan dikembalikan ke pabrik di Prancis, lalu dihancurkan dan dibakar. Menyakitkan, bukan? Ya, hal ini harus dilakukan untuk memastikan imej brand Louis Vuitton agar tetap eksklusif.

➢ 9. Louis Vuitton tidak akan pernah memberikan harga diskon pada barang-barang yang mereka produksi. Seperti poin sebelumnya, jika barang tak terjual, maka diskon bukanlah solusi.

➢ 10. Semua tas Louis Vuitton dibuat secara handmade-atau murni keahlian tangan. Kabarnya, dibutuhkan waktu satu minggu untuk membuat satu tas.

➢ 11. Monogram populer Louis Vuitton dipopulerkan oleh anak Louis Vuitton yang bernama Georges Vuitton. Monogram tersebut dibuat untuk menghindari segala bentuk plagiarisme dari perusahaan lain terhadap brand Louis Vuitton.

➢ 12. Louis Vuitton memiliki sekitar 460 toko di 50 negara. Tokonya yang terbesar terletak di 101 avenue des Champs-Elysees, Paris, Prancis dengan luas sekitar 1800 meter persegi. Kemudian, di Nevada, Amerika Serikat, Louis Vuitton memiliki lima butik resmi di jajaran jalan yang sama. Dan yang terunik terletak di Singapura yang kini menjadi bagian dari ikon wilayah Marina Bay Sands. Toko tersebut memiliki toko buku, tempat relaksasi, galeri, hingga terowongan bawah laut yang mengarah ke hotel dan mal Marina Bay Sands.

Louis Vuitton dan Cara Membedakan Tas Ori dan KW Louis Vuitton dan Cara Membedakan Tas Ori dan KW

Louivuittonoutlet.net – Apa yang terlintas di kepalamu saat mendengar nama brand seperti Louis Vuitton, Dior, dan Celine? Ya, nama-nama tersebut merupakan nama dari brand high-end ternama di dunia yang terkadang menjadi simbol kesenjangan sosial yang ada di masyarakat dunia. Nyatanya, ketiga brand tersebut berada dalam satu naungan perusahaan besar.

Adalah LVMH Moët Hennessy Louis Vuitton SE, yang lebih sering disapa dengan LVMH. Perusahaan konglomerat barang mewah multinasional asal Eropa yang berasal dari Prancis dan berpusat di Paris.

Dibentuk pada 1987, LVMH merupakan gabungan dari rumah mode terkenal dunia Louis Vuitton bersama Moet Hennessy. Moet Hennesy sendiri merupakan hasil gabungan dari dua produsen champagne Moët & Chandon dan Hennessy.

LVMH mengontrol kurang lebih 60 anak perusahaan, yang hampir seluruhnya menjadi brand-brand ternama. Nama-nama di bawah LVMH pun sudah sangat familiar. Sebut saja Celine, Dior, Fendi, Givenchy, Kenzo, Louis Vuitton, Marc Jacobs, Bulgari, TAG Heuer, Benefit Cosmetics, dan masih banyak lagi.

Pemegang saham terbesar dari LVMH adalah salah satu merek fashion kelas atas, Christian Dior. Rumah mode asal Prancis tersebut memegang sekitar 40,9 persen saham dan 59,01 persen hak voting.

Bernard Arnault, sebagai pemegang saham terbesar dan Chairman Dior, juga secara otomatis menjadi CEO LVMH. Bahkan, pada 2017 lalu Bernard membeli seluruh saham Christian Dior sebesar USD 13,1 miliar atau setara dengan Rp 178 triliun.
Atas kesuksesan Bernard menggabungkan berbagai brand ikonik dunia dalam satu naungan, membuat banyak perusahaan terinspirasi dan melakukan hal yang sama.

Hingga saat ini, LVMH terhitung memiliki 2.400 gerai dan 83 ribu karyawan yang tersebar di seluruh dunia. Brand di bawah naungan LVMH ini diketahui selalu mengendalikan merek dagang mereka dengan ketat. Alasannya, untuk mempertahankan dan meningkatkan persepsi kemewahan dari produk-produk tersebut.

Sebagai contoh, Louis Vuitton hanya menjual produknya lewat gerai resmi yang selalu ditemukan di lokasi tertentu unuk mempertahankan eksklusivitas dari produk-produk tersebut. Misalnya, di pusat perbelanjaan mewah atau di butik yang berlokasi di daerah elit.

Baca Juga : Brand Louis Vuitton Yang Berawal Dari Anak Muda Miskin

♦ Cara Membedakan Tas Louis Vuitton Yang Asli dan KW
Brand asal Prancis, Louis Vuitton, merupakan salah satu brand high-end yang cukup diminati oleh para pecinta dunia fashion. Jika tak menjinjing atau mengenakan tas ikonik LV, rasanya tampilan seperti ada yang kurang.

Tas LV sendiri memiliki banyak jenisnya. Mulai dari yang bermaterial canvas, kulit, hingga dengan motif ikonik berlogo ‘LV’ dan monogram.

Louis Vuitton juga menjadi salah satu brand yang paling banyak dibuat produk tiruannya alias KW. Produk tersebut bisa kamu jumpai di pusat-pusat perbelanjaan mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah dengan kualitas yang hampir menyerupai aslinya.

Lantas, bagaimana cara membedakan produk LV yang asli dan KW ? Simak tipsnya seperti yang dituturkan oleh Effi Rachmanto, pemilik gerai @effiraia_luxury

➢ 1. Warna
Hal paling mudah untuk membedakan barang asli dan palsu adalah dengan melihat warnanya. Tas LV asli, memiliki warna yang lebih gelap. Sedangkan LV palsu warnanya lebih cenderung kekuning-kuningan.

➢ 2. Bentuk Zipper
Zipper atau resleting pun terlihat berbeda. Zipper lansiran LV asli, terlihat lebih besar dan mengkilap, berbeda dengan barang yang palsu.
“Yang asli, gagang zipper-nya lebih terlihat besar dan berbobot (berat), kalau palsu gagangya kecil dan ringan. LV asli itu mengkilapnya berbeda,” jelas Effi.

➢ 3. Jahitan
Dari segi jahitan, LV asli tidak akan pernah memotong bentuk logo. Meski terhalangi oleh lipatan, LV asli akan tetap menyambung bentuk logo dan tak serta-merta dibuat secara asal.

“Craftsmanship LV itu percision ya, logonya akan selalu nyambung dan tidak akan tercerai berai,” lanjut wanita yang hobi mengoleksi tas branded ini.

➢ 4. Launch Code
Pada beberapa kasus, LV palsu akan menunjukan data code yang salah. “Contohnya, sebenarnya ini tas keluar tahun 2009, tapi di barang KW tertera 2007,” sambungnya.
Namun tak jarang, data code pada barang KW persis sama dengan produk aslinya. Sehingga sulit dibedakan jika tidak ada pembandingnya.

➢ 5. Bobot atau berat
Dalam penjelasan Effi, LV asli akan terasa lebih berat dibandingkan dengan LV KW. Oleh karena itu, untuk mengetahui soal bobot memang diperlukan pembanding. Terakhir, kulit dari LV palsu akan gampang terkelupas, jahitan palsu juga mudah untuk terbuka.

Brand Louis Vuitton Yang Berawal Dari Anak Muda Miskin Brand Louis Vuitton Yang Berawal Dari Anak Muda Miskin

Louivuittonoutlet.net – Berdiri sejak 1854, siapa yang tak kenal produk dan merek Louis Vuitton yang sudah melanglang hampir ke seluruh pelosok dunia. Merek besar asal Paris ini telah melahirkan sejumlah produk fashion termewah di dunia.

Salah satu produk fashion terpopuler dan termahal yang pernah diluncurkan Louis Vuitton adalah Kusama Pumpkin Minaudiere yang dibandrol hingga US$ 133.400 atau setara Rp 1,57 miliar. Meski harganya melambung tinggi, lima tas karya desainer ternama Yayoi Kusama itu terjual habis.

Popularitasnya memang tak diragukan lagi. Meski demikian, masih jarang yang tahu, merek besar dan termahal di dunia itu lahir dari nama seorang pemuda miskin yang bahkan tak punya pekerjaan. Inovasi si pemuda miskin bernama Louis Vuitton itu berhasil menyuburkan produk-produknya hingga sekarang.

Bagaimana lika-liku perjalanan perusahaan Louis Vuitton hingga mampu memproduksi salah satu tas termahal di dunia? Apa yang membuat harga tas tersebut mencapai angka miliaran rupiah?

Berikut kisah sejarah Louis Vuitton seperti dikutip dari The Richest, The Born Rich, dan situs resmi Louis Vuitton serta berbagai sumber lainnya,

• Louis Vuitton, merek besar yang lahir dari nama pemuda miskin
Kebesaran merek fashion Louis Vuitton di mata dunia pasti membuat para penggunanya tak pernah menyangka, nama tersebut lahir dari seorang remaja super miskin tanpa pekerjaan. Tak tahan dengan kehidupannya di perbatasan Prancis, Louis Vuitton yang lahir pada 1821 mengungsi ke beberapa tempat sejak usia 14 tahun.

Vuitton merupakan pemuda super miskin yang bekerja serabutan demi mencukupi kehidupannya sehari-hari. Dua tahun kemudian, dia tiba di Paris dan melamar di sebuah pabrik pembuat koper dan peti barang, Mosieur Marechal.

Dia mengabdi selama 17 tahun di perusahaan tersebut. Pengalaman bertahun-tahun yang diperolehnya lebih dari cukup untuk membekalinya mendirikan bisnis koper sendiri. Dia sangat paham apapun yang diperlukan para wisatawan.

Pada 1854, dia pun mendirikan toko pertamanya bernama Louis Vuitton Malletier (Louis Vuitton si pembuat koper). Inovasi Vuitton terus membuat tas koper buatannya semakin moderen. Pola dan karyanya yang unik dan berbeda membuat produknya populer di kalangan selebritis dan keluarga kekaisaran.

Pada 1888, dia mulai mematenkan namanya dengan membuat lambang L dan V sebagai tanda merek besar Louis Vuitton.

• Louis Vuitton, merek paling mahal di dunia
Nomor satu dalam jajaran merek barang mewah adalah Louis Vuitton. Harga mereknya diprediksi mencapai US$ 23,58 miliar. Melihat harganya, hingga beberapa tahun ke depan, tak akan ada satu merek pun yang mampu menandingi mahalnya nilai merek Louis Vuitton.

Saat ini, merek yang dilahirkan Louis Vuitton ini merupakan yang terbaik di Prancis. Merek ini telah melanglang ke lebih dari 60 negara di duni. Terdapat lebih dari 500 butik yang telah dibangun di beberapa negara tersebut.

Merek yang telah resmi berdisi sejak 1854 itu, hingga saat ini masih sangat terkenal di antara berbagai produk mewah lainnya. Berbagai desain inovatif yang terus diluncurkan Louis Vuitton dan keturunannya bahkan membuat merek tersebut menjadi merek paling mahal di dunia.

• Tas pertama Louis Vuitton lahir setelah Vuitton wafat
Merek Louis Vuitton semakin besar dan elegan di kalangan selebritis dan bangsawan berkat inovasi tanpa henti yang dikembangkan pemiliknya. Usai pendirinya, Vuitton wafat pada 1892, sang anak, Georges terjun meneruskan bisnis keluarga tersebut.

Georges sukses melebarkan sayap bisnis fashion tersebut hingga ke berbagai negara di pelosok dunia. Di tahun yang sama dengan waktu tutup usia Vuitton, perusahaan mulai merancang dan menjual tas.

Pada 1991, keluarga Vuitton merancang tas `Stemer` yang sangat terkenal. Stemer merupakan leluhur koper bertekstur lembut yang digunakan hingga sekarang. Awalnya tas tersebut berfungsi untuk menyimpan pakaian tapi akhirnya banyak orang menggemarinya.

Siapa sangka, tas rancangannya justru menjadi ikon utama di antara produk-produk fashion Louis Vuitton lainnya. Tas-tas produksinya yang teramat populer berhasil membawa nama Louis Vuitton hingga sekarang.

Baca Juga : Tips Untuk Membedakan Louis Vuitton Asli dengan Palsu

• Tas Paling Mahal yang Dijual Louis Vuitton
Kusama Pumpkin Minaudiere merupakan tas paling mahal yang diproduksi Louis Vuitton. Hargannya melambung tinggi hingga US$ 133.400 atau setara Rp 1,57 miliar. Tingginya harga tas tersebut karena jumlah produksinya yang sangat terbatas.

Sepanjang sejarah, perancangnya yang populer Yayoi Kusama hanya memproduksi lima tas serupa. Lebih dari itu, tas tersebut terbuat dari emas murni, manik-manik hitam super mahal, serta kombinasi logam-logam terbaik di dunia.

Tak heran, Louis Vuitton membrandolnya dengan harga super mahal. Tas mewah lain yang dijual Louis Vuitton adalah Coquille d’Oeuf Minaudiere seharga US$ 101.000 atau setara Rp 1,19 miliar. Tas tersebut dikenalkan pada 2012. Mewahnya tas itu merupakan hasil kerja sama perusahaan dengan direktur kreatifnya, Marc Jacobs. Namanya yang terkenal di dunia fashion membantu mengarahkan visi artistik perusahaan.

• Cuma 1% merek asli Louis Vuitton yang beredar di pasaran, sisanya palsu
Motif khas Louis Vuitton, gambar bunga asal Jepang, telah identik dengan kemewahan sejak pertama kali diperkenalkan pada 1896. Tak hanya motifnya yang khas, Vuitton juga menggunakan logo monogram di semua produknya termasuk tas-tasnya.

Awalnya, logo monogram itu diciptakan guna mencegah pemalsuan dari perusahaan desainer tas lainnya di Paris. Ironisnya, logo tersebut justru mudah ditiru dan merupakan logo yang paling banyak ditiru sepanjang sejarah fashion.

Bayangkan saja, dari semua produk Louis Vuitton yang beredar di pasaran, hanya 1% merek yang dianggap otentik dan asli diluncurkan perusahaan asal Paris tersebut. Logo tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru dunia, baik lewat penjelajah, pelayar dan wisatawan asing yang bertandang ke Paris.

Di Indonesia, pemandangan masyarakat biasa menenteng tas dan dompet bermotif persis seperti logo Louis Vuitton juga sering terlihat. Peluang memalsukan logo tersebut banyak dimanfaatkan para pedagang yang ingin meraup untung dari masyarakat yang ingin terlihat bergaya hidup mewah.

Meski begitu, Louis Vuitton tetap menjadi salah satu lambang kemewahan dan kehidupan glamor baik di kalangan selebritis dunia, sosialita, pejabat, maupun masyarakat kelas atas lainnya.

Tips Untuk Membedakan Louis Vuitton Asli dengan Palsu Tips Untuk Membedakan Louis Vuitton Asli dengan Palsu

Louivuittonoutlet.net – Siapa tak mengenal Louis Vuitton. Merek papan atas ini layak mendapat apresiasi tinggi. Mengapa? Pertama, karena produk-produknya sangat berkualitas dan legendaris. Kedua, karena LV melakukan ratifikasi produk dagangannya secara unik. Ironisnya, produk bergengsi ini sering dipalsukan. Pemalsuan tersebut telah merajalela di seluruh dunia karena sebagian besar dari kita tidak dapat membedakan produk yang palsu dan yang asli. Contohnya, tak banyak dari kita yang tahu kalau LV tidak pernah dijual di bawah harga standart dan produk yang cacat tidak akan dijual kembali.

Sebenarnya, masih banyak lagi hal yang perlu Anda cermati jika ingin membeli produk Louis Vuitton yang benar-benar otentik. Bagaimana caranya?

♦ Trik Mengetahui Produk Louis Vuitton yang Otentik
Ada beberapa teknik dasar yang perlu Anda ketahui untuk membedakan produk LV yang asli dan yang palsu. Caranya sangat mudah dan Anda tak harus menjadi agen autentikasi profesional untuk mengetahuinya. Berikut cara mudah mengetahui produk Louis Vuitton yang asli dalam sekejap.

• Bahan
Louis Vuitton menggunakan bahan terbaik dengan kualitas tinggi. Jadi, ketika Anda melihat tas dan tahu bahwa bahannya tak berkualitas itu pasti produk palsu. Jika Anda membeli dari pengecer online, baiknya jangan terburu-buru untuk membeli dan membayarnya. Mintalah lebih banyak gambar dari si penjual online.

Bahan LV model Monogram canvas, Damier Ebene dan Damier Azur terbuat dari kanvas berkualitas tinggi yang memiliki sifat tahan air, awet dan dapat dibersihkan dengan mudah. Sementara Louis Vuitton Empreinte yang diperkenalkan pada tahun 2010 terbuat dari kulit nomor satu dan sukses merajai pasar fesyen. Lalu untuk jenis Monogram Vernis Leather, Elektric Leather dan Damier Carbon merupakan produk klasik. Jadi, jika Anda membeli dari pengecer dan ingin tahu apakah itu barang dagangan yang asli, ajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Anda akan memiliki jawabannya.

• Perangkat Keras
Memeriksa perangkat keras merupakan cara termudah untuk mengetahui apakah produk LV itu palsu atau asli karena Anda akan mengetahui apakah ritsleting, dll terbuat dari plastik atau bahan serat lain dan dilapisi warna emas. Ditambah lagi, nama merek LV terlihat timbul. Produk palsu tak mungkin memiliki merek dengan tampilan timbul bahannya jelas beda dan juga tidak dikerjakan dengan teknologi secanggih LV asli.

Perlu diketahui juga, Louis Vuitton menggunakan perangkat keras berkualitas tertinggi sehingga bersifat kuat, terasa berat, dan kokoh. Sementara potongan cincin-D LV menyambung secara sempurna tanpa banyak ruang dengan tujuan meminimalisir gesekan. Ini juga salah satu karakteristik unik tas Louis Vuitton.

• Kode Tanggal
Kode-kode tanggal merupakan fitur unik dari Louis Vuitton dan ini berbeda dari nomor seri yang dimiliki merek lain. Pemakaian kode tanggal ini terbilang inovasi baru LV. Anda takkan menemukannya pada koleksi tas antik LV yang dibuat sebelum tahun 1980.

Kode terbaru dari koleksinya akan muncul seperti ini – dua huruf di depan dan diikuti oleh empat digit. Misalnya, FL2079. Dua huruf di depan yakni FL merupakan singkatan dari pabrik yang berada di Amerika Serikat. Angka pertama dan ketiga menandakan minggu pembuatan; yakni 2 dan 7 artinya minggu ke-27 tas tersebut dibuat. Sedangkan angka kedua dan keempat menandakan tahun pembuatan; yaitu 0 dan 9 yang artinya tahun 2009.

Koleksi tas sebelum tahun 2007 menggunakan kode tanggal dua huruf yang diikuti oleh 4 digit yang menandakan bulan dan tahun pembuatan. Digit pertama dan ketiga mewakili bulan lalu digit kedua dan keempat mewakili tahun. Jadi, FA1102 berarti koleksi itu dibuat di sebuah pabrik di Swiss, pada bulan Oktober (10) tahun 2012 (12).

Untuk produk LV yang diproduksi di awal tahun 80an, digit atau angka mendahului huruf. Dua digit pertama menandakan tahun pembuatan dan dua digit selanjutnya menandakan bulan pembuatan. Jadi semisal 8211CA, kode itu menyimpan arti diproduksi bulan November tahun 1982 di sebuah pabrik di Spanyol.

Sayangnya, meski telah dirancang dengan kode tanggal yang sempurna, produk tiruan tetap saja merajalela dan berusaha meniru kode tanggal ini. Jadi sebaiknya, sebelum membeli tas LV periksa kembali kondisi tas, desain, model, seri dan perangkat kerasnya. Semuanya harus sinkron.

• Jahitan
Jahitan tas LV sangat rapi, teratur dan konsisten. Bahkan di celah-celah pegangan tas, jumlah jahitannya sama tepat. Jika ujung jahitan terlihat tidak rapi, Anda bisa menghitungnya di kedua sisi dan itu akan memberi Anda gambaran yang jelas.

• Hal-hal Sepele Lainnya yang Menarik
Jika melihat lebih dekat, Anda dapat dengan mudah membedakan mana yang palsu dan mana yang asli dari hal yang terkesan sepele berikut.

Ekor huruf ‘L’ pendek.
Huruf ‘O’ cukup bulat.
Huruf-huruf ‘Ts’ sangat berdekatan satu sama lain sehingga terlihat saling bersentuhan.
Tas LV diisukan terbuat dari vinil. Faktanya tidak karena sebenarnya terbuat dari kulit murni.
Produk asli Louis Vuitton tidak dijual di bawah harga standart atau harga diskonan. Jadi, kecuali barang bekas milik pendahulunya yang dijual kembali, jangan pernah percaya ada penurunan harga pada produk LV.
Louis Vuitton akan membakar semua barang cacat produksi. Jadi waspadalah terhadap hal itu juga.
Logo bagian dalam tas Louis Vuitton dibuat timbul. Berhati-hatilah, banyak penjual palsu berupaya menirunya sesempurna mungkin.
Bertentangan dengan kepercayaan yang beredar di kalangan luas, tas LV ternyata memiliki simbol terbalik di beberapa model seperti Papillons, gaya Speedy dll.
Hampir seluruh model tas Louis Vuitton terbuat dari kanvas besar tanpa jahitan bahkan di bagian bawah tas. Meski demikian, ada beberapa bagian yang terbuat dari kanvas terpisah yang memiliki simbol terbalik.
Tas, koper atau produks Louis Vuitton lainnya tidak dilengkapi kartu label seperti produk merek lain. Kartu label LV umumnya dimasukkan ke dalam kantong kecil di dalam tas.
Tas Louis Vuitton dibuat di Prancis, AS, Jerman, Italia, Swiss, dan Spanyol. Jangan pernah percaya pada penjual yang menjanjikan menjual koleksi terbaru yang belum dirilis secara resmi.

Baca Juga : Louis Vuitton Perkenalkan Berlian Terbesar Kedua diDunia

♦ Jawaban Pakar Untuk Pertanyaan Para Pembaca

• Apakah semua tas LV memiliki nomor seri?
Tidak, Louis Vuitton memiliki kode tanggal. Tas LV tidak memiliki nomor seri dan itulah yang membedakannya dari merek lain serta membedakannya dari produk palsu. Mereka memiliki kode tanggal sesuai kebijakan yang tidak dapat dikacaukan. Kode tanggal harus sejajar dengan label ‘Made in (negara)’. Jadi, jika kode tanggal mengatakan SA (yang berarti pabrik di Italia), label ‘Made in’ tak mungkin tertulis Prancis atau Spanyol.

• Apa itu kode tanggal?
Kode tanggal adalah kode unik yang melambangkan tempat produksi serta tanggal pembuatan. Ini membantu pelanggan mengidentifikasikan keotentikan tas LV jika kebetulan tidak membeli langsung dari toko Louis Vuitton atau reseller yang sangat tepercaya.

• Bagaimana saya dapat membedakan tas Louis Vuitton yang asli jika membeli secara online?
Minta penjual Anda untuk mengirim gambar dari angle yang berbeda-beda. Bila perlu minta kirim foto-foto tas tersebut dari beberapa detil yang paling rumit misalnya jahitan, bahan, logo, pegangan tas, perangkat keras, label dsb. Dan percayai insting Anda. Jika insting Anda berkata tidak maka bisa jadi tas yang ingin Anda beli itu barang palsu.

• Bagaimana jika tas Louis Vuitton saya tidak memiliki kode tanggal?
Beberapa versi lama memang tidak memilikinya dan pada beberapa koleksi lama kode tanggalnya mungkin sudah pudar. Jadi, cari detil lain untuk memvalidasinya.

Jadi, membeli atau mengoleksi tas Louis Vuitton harus benar-benar cerdik. Meski terkesan ribet dalam memvalidasi keotentikannya, tapi semua itu harus Anda lakoni agar tak terjebak oleh rayuan penjual produk palsu.

Louis Vuitton Perkenalkan Berlian Terbesar Kedua diDunia Louis Vuitton Perkenalkan Berlian Terbesar Kedua diDunia

Louivuittonoutlet.net – Rumah mode asal Prancis, Louis Vuitton, terus menunjukkan keseriusan mereka dalam menghadirkan high-end fashion kepada para pelanggannya. Tak lagi hanya berfokus pada pakaian dan aksesoris high-end, kini, brand ini juga menaruh perhatian khusus pada perhiasan mewah yang dibuat dari bahan langka, termasuk berlian.

Baru-baru ini, brand tersebut mengumumkan bahwa mereka telah mengakuisisi berlian terbesar kedua di dunia. Berlian ini dinamakan Sewelô, yang artinya ‘penemuan langka’ dalam bahasa Setswana, Afrika Selatan.

Dalam keterangan pers yang diterima kumparanWOMAN, Louis Vuitton menyatakan bahwa berlian 1.758 karat ini ditemukan pada April 2019 di gua Karomine, Botswana, Afrika, dan diperkirakan telah berusia sekitar 2 miliar tahun. Ukuran berlian ini hampir menyerupai bola tenis, yaitu 83mm x 62 mm x 46 mm dan berat 352 gram.

Rumah mode asal Prancis itu mengklaim, belum pernah ada berlian mentah yang mengalahkan ukuran Sewelô, kecuali berlian Cullinan yang memiliki bobot 3.106 karat dan telah diolah menjadi perhiasan milik keluarga kerajaan Inggris.

Saat ini, Sewelô masih terbungkus dalam lapisan karbon hitam yang menutupi rupa aslinya. Berlian ini diambil dengan teknologi tinggi milik Lucara Corporation, yang memungkinkan berlian tersebut dikeluarkan dari tanpa merusak batu yang membungkusnya.

Baru-baru ini, bentuk awal Sewelô yang masih terbungkus karbon telah dipamerkan kepada selebriti papan atas, editor, juga klien di toko flagship Louis Vuitton, Place Vendôme, Paris. Para undangan khusus ini diberikan kesempatan untuk melihat bentuk mentah Sewelô, sebelum berlian itu diolah menjadi beberapa perhiasan oleh Louis Vuitton.

Untuk selanjutnya, Louis Vuitton akan menggali lebih potensi berlian ini bersama HB Company, sebuah perusahaan pengolah berlian dari Antwerp, Belgia. Mereka akan menggunakan teknologi termutakhir untuk memahami karakteristik dan potensi final dari berlian tersebut, sekaligus merencanakan bentuk akhirnya.

Baca Juga : Beberapa Perbedaan Ikat Pinggang LV Original vs Palsu

“Langkah pertamanya adalah dengan membuka jendela menuju batu ini, demi melihat jantung dari Sewelô, lalu merencanakan berbagai permutasi untuk ukuran, warna, dan bentuk (akhir berlian),” tulis Louis Vuitton dalam keterangan pers.

Hal ini juga dibenarkan oleh Michael Burke, CEO sekaligus Chairman dari Louis Vuitton. Dalam acara makan malam eksklusif yang diadakan untuk memperkenalkan berlian itu, Burke mengatakan bahwa saat ini ada berbagai kemungkinan untuk berlian tersebut.

“Biasanya, (akan ada) berlian bentuk akhir yang sudah dipoles dan dipotong dan ditunjukkan kepada sejumlah klien potensial. Mereka bisa menyukainya dan bisa juga tidak. Tapi, aspek (penciptaan) kreatif bukanlah bagian dari hubungan antara klien dan kami. Di sini, kami ingin agar hubungan itu bisa berkembang sejauh mungkin,” tuturnya, seperti dikutip Vogue.

Sesuai yang dikatakan Burke, berlian ini akan diproses menjadi perhiasan dengan sistem made-to-order atau sesuai permintaan klien, dalam bentuk bunga dan bintang yang menjadi motif khas Louis Vuitton. Seperti diutarakan oleh rumah mode tersebut, ukuran dan permukaan Sewelô yang hitam menjadikan berlian itu perlu diproses dengan nano-technology tertinggi, alih-alih menggunakan teknologi biasa. Menurut mereka, dibutuhkan waktu sekitar setahun untuk melihat transformasi Sewelô menjadi perhiasan yang apik.

Beberapa Perbedaan Ikat Pinggang LV Original vs Palsu Beberapa Perbedaan Ikat Pinggang LV Original vs Palsu

Louivuittonoutlet.net – Tingginya minat masyarakat terhadap barang bermerek, semakin tinggi pula praktik penipuan barang palsu. Oleh karena itu kali ini kami akan memberikan tips mengenai perbedaan ikat pinggang LV original vs Palsu agar Anda terhindar dari penipuan penjualan barang palsu.

• Sejarah Singkat Louis Vuitton
Louis Vuitton, salah satu brand kenamaan dari Perancis ini memang terkenal dengan koleksi-koleksinya yang eksklusif dan berkualitas tinggi. Namun, tahukah Anda? Sebelum menjadi terkenal seperti sekarang, pendiri dan perancang brand ini, Louis Vuitton Malletier, mengawali karirnya sebagai pembuat koper di usianya yang masih sangat muda, yaitu 16 tahun. Kemudian di tahun 1854, barulah ia mendirikan brand Louis Vuitton. Hingga akhirnya pada tahun 1914 dibangun toko koper terbesar di dunia milik Louis Vuitton di Champs-Elysees, Paris.

Meski telah berdiri selama 163 tahun, tidak menjadikan brand ini beralih ke proses produksi dengan menggunakan mesin. Ya, mereka masih mempertahankan proses pembuatan produk-produknya dengan asli buatan tangan. Sehingga tidak heran, pada tahun 2013 Louis Vuitton dinobatkan sebagai produk paling bernilai urutan ke-14 oleh Forbes.

Salah satu ikon mereka yang paling terkenal adalah motif monogram. Sayangnya, motif ini banyak ditiru untuk dipakai pada berbagai produk. Di jaman yang semakin modern ini, sudah menjadi rahasia umum jika barang palsu atau KW semakin menjamur. Kecenderungan masyarakat yang ingin tampil keren dengan budget murah, mendorong tingginya perkembangan barang KW. Bagi Anda yang benar-benar menginginkan produk Louis Vuitton, tidak perlu khawatir! Pada artikel kali ini, kami akan mengupas tuntas cara membedakan produk Louis Vuitton original vs palsu.

• Cara Mengenali Ikat Pinggang LV Original vs Palsu
Terdapat beberapa cara mudah yang bisa Anda lakukan untuk membedakan produk Louis Vuitton, atau yang biasa disingkat LV. Salah satu contohnya, untuk ikat pinggang LV original yang hanya diproduksi di Spanyol, Anda akan menemukan label bertuliskan “Made in Spain” di bagian belakang ikat pinggang. Sebaliknya jika tulisannya “Made in France” atau bahkan “Made in England”, sudah tentu barang tersebut adalah palsu alias KW.

Cara lainnya adalah dengan melihat gesper pada ikat pinggang LV. Jika asli, gesper tersebut akan polos di bagian depan dan belakang. Sementara untuk produk tiruannya, mereka justru mencantumkan nomor seri dan mengukir simbol LV di bagian belakang gesper. Cara terakhir yang paling mudah adalah dengan mengetahui bahwa ikat pinggang LV original tidak memiliki sertifikat. Jadi maaf saja, untuk produk yang menyertai sertifikat, merekalah yang tipu-tipu!

Nah untuk lebih jelasnya, kami sudah merangkum secara lengkap cara yang bisa Anda lakukan untuk membedakan produk LV original vs palsu. Berikut rangkumannya.

Baca Juga : Merk Dari Sepatu Wanita Termahal di Dunia

• Bandingkan Ikat Pinggang LV pada Situs atau Toko Resmi LV
Sebelum memutuskan untuk membeli, ada baiknya Anda melakukan pengecekan harga melalui situs atau toko resmi LV. Selain harga, Anda juga bisa mendapatkan informasi lain seperti katalog produk yang mereka keluarkan. LV sendiri memiliki sekitar 36 macam produk ikat pinggang yang bisa Anda cek di situs resmi mereka.

Beberapa macam produk mereka antara lain adalah LV Initiales, Boston, Chain Me, dan Reverso. Jika barang yang Anda hendak beli tidak termasuk di dalam daftar yang disajikan situs resmi, artinya barang tersebut adalah palsu. Untuk ikat pinggang original mereka, Louis Vuitton membanderol harga kisaran Rp 5.133.590 – Rp 11.467.240.

• Periksa Logo Cap dan Nomor Seri pada Ikat Pinggang LV
Seperti yang sudah dijelaskan di awal artikel ini, ikat pinggang Louis Vuitton hanya dibuat di Spanyol. Memang benar, beberapa pernah dibuat di Perancis dan Amerika Serikat, tetapi itu hanya dilakukan pada tahun 1980-1990an. Sekarang ini semua ikat pinggang original mereka bertuliskan “Made in Spain”.

Selain itu ikat pinggang original LV juga memiliki cap lengkap dengan nomor serinya pada bagian belakang ikat pinggang. Sebaliknya jika cap dan nomor seri ditemukan di belakang gesper maka ikat pinggang yang Anda beli adalah palsu. Jangan terjebak dengan nomor seri karena bisa saja itu palsu! Sebaiknya Anda lebih teliti lagi mengenai peletakan nomor seri pada produk original mereka.

• Harga yang Harus Lebih Dicermati
Cara paling mudah untuk membedakan produk original atau palsu adalah dengan melakukan pengecekan harga melalui situs resmi Louis Vuitton. Karena sampai saat ini hanya situs resmi saja yang menyajikan harga sesuai. Selain itu, situs-situs buatan Indonesia misalnya, cenderung menawarkan harga jauh lebih rendah sehingga tidak bisa dipastikan keasliannya.

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, harga produk Louis Vuitton tentu tidak murah bahkan bisa mencapai jutaan rupiah! Jadi jika menemukan barang yang lebih murah dibandingkan dengan harga yang tertera di situs resmi, sudah pasti barang yang Anda akan beli adalah palsu.

• Periksa Kemasan
Perbedaan selanjutnya adalah kemasan. Untuk kemasan Louis Vuitton original, ikat pinggangnya dilengkapi dengan dust bag berbahan flanel dengan tali penarik di kedua sisinya. Selain itu juga terdapat tulisan “Louis Vuitton” di tengah dust bag.

Ciri-ciri yang lainnya adalah ikat pinggang LV memiliki kemasan berupa kotak berwarna abu gelap dengan tulisan “Louis Vuitton” di bagian kanan. Tutup kotak berbentuk sempurna, tidak ada timbulan dan ukuran kotak pun pas dengan ukuran ikat pinggang. Bagaimana, sangat mudah bukan untuk membedakan antara ikat pinggang asli dan palsu?

• Teliti pada Bagian Gesper
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Anda harus meneliti bagian gesper. Jika menemukan logo cap dan nomor seri di belakang gesper, maka produk yang Anda beli adalah palsu. Produk asli tidak mencantumkan apapun pada bagian depan maupun belakang gesper.

Telitilah lagi, jangan sampai Anda menyesal!

• Kualitas Jahitan
Kualitas jahitan Louis Vuitton original yang paling bisa Anda lihat saat hendak membeli adalah kerapiannya. Baik jahitan luar maupun dalam, jika barangnya original, maka jahitannya tentu akan rapi. Selain itu apabila Anda menemukan panjang-pendeknya jahitan yang tidak sama, besar kemungkinan barang yang Anda beli adalah palsu.

Merk Dari Sepatu Wanita Termahal di Dunia Merk Dari Sepatu Wanita Termahal di Dunia

Louivuittonoutlet.net – Sepatu dan tas adalah aksesoris pelengkap untuk memaksimalkan penampilan. Bicara soal sepatu, setiap wanita tentunya menyukai jenis sepatu yang berbeda. Ada yang lebih nyaman memakai sepatu dengan hak rendah, tapi ada juga yang lebih suka hak tinggi dan lancip.

Ada banyak sekali merek sepatu wanita. Setiap merek memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi, tahukah kamu apa saja merek sepatu wanita yang paling mahal di dunia ?

♦ Merek Sepatu Wanita Termahal di Dunia

➢ 1. Miu Miu
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Miuccia Prada memberikan nama Miu Miu diambil dari nama panggilan keluarga. Sementara Prada menawarkan desain yang minimalis, elegan dan kekinian untuk para kliennya, Miu Miu hadir dengan gagasan yang cukup bertolak belakang. Miu Miu lebih memilih gaya yang berkesan liar, menyolok, dan eklektik, instan membuat siapapun yang melihat akan langsung jatuh cinta.

Merek ini sendiri dikenal dengan konsep adibusana, kemewahan, dan feminisme, dimana hal tersebut bukan sesuatu yang umum. Hal tersebut dipakai sebagai strategi, koleksi, dan lain sebagainya. Seperti yang menjadi pedoman mereka, hal yang berani, akan hidup selamanya. Sepatu-sepatu dari merek ini tidak ada habisnya memikat hati para wanita hingga saat ini.

➢ 2. Christian Louboutin
Kita akan langsung mengenali ‘Louboutin’ begitu kita melihatnya.. Ada cerita menarik dibalik sosok Louboutin, bahwa dia secara otodidak bisa mendesain sepatu. Dia juga terpaksa keluar dari sekolah dan mengambil beberapa pekerjaan. Dimulai dengan bekerja sebagai desainer sepatu paruh waktu di awal tahun 80-an. Beberapa tahun kemudian, dia mulai menggunakan mereknya sendiri. Asal muasal terciptanya alas sepatu berwarna merah, terinspirasi saat dia melihat asistennya sedang mengaplikasikan kuteks warna merah.

Setelah itu, sepatu ini langsung menjadi terkenal. Beberapa koleksi sepatunya memiliki hak sangat tinggi yang berbahaya. Walaupun berhadapan dengan semua masalah barang tiruan, memperjuangkan hak paten atas alas sepatu merah dengan YVS, tidak menghalangi Louboutin menjadi merek sepatu mewah yang paling banyak dicari di seluruh dunia.

➢ 3. Manolo Blahnik
Manolo Blahnik sering disebut sebagai ‘dewa’ sepatu hak tinggi. Dia sangat percaya bahwa kekuatan pada sepatu hak tinggi dan dengan proses buatan tangan akan menghasilkan tingkat kepuasan yang sama. Desain yang dihasilkan sangat otentik, sesuai pesanan, dan tidak diproduksi secara masal.

Pertemuannya dengan Diana Vreeland (di tahun 1968), seseorang yang menjabat sebagai kepala redaksi Vogue, saat itulah dia mulai perjalanannya dalam merancang untuk pembuatan sepatu. Dia mempersembahkan koleksi sepatu pertamanya, di tahun 1971.

Kreasinya telah banyak diperlihatkan pada karpet merah, berbagai film dan acara TV, serta dipakai oleh nama – nama terkenal di Hollywood. Manolo Blahnik sudah tidak perlu diragukan lagi!

➢ 4. Jimmy Choo
Mulai dari Puteri Diana hingga Carrie Bradshaw, Jimmy Choo memiliki jangkauan pelanggan yang paling setia hingga kalangan elit, dibandingkan dengan merek lainnya. Jimmy Choo bermula dari seorang yang bernama Choo Yeang Keat, dia adalah desainer Malaysia yang berasal dari keluarga pembuat sepatu, namun belum satu pun yang sukses pada tahap ini.

Dia mulai merancang sepatu yang dibuat khusus, ide tersebut muncul begitu cepat bagaikan kebakaran. Dia menjadi seorang desainer sepatu dalam sekejap mata. Mulai dari sepatu kets, hingga sepatu hak, Jimmy Choo memiliki pandangan khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain, tidak heran jika karyanya terus menjadi daya tarik dari berbagai macam kalangan.

➢ 5. Walter Steiger
Walter Steiger, seorang desainer yang menetap di Jenewa ini, mulai merintis mereknya pada tahun 1932. Dia membuat sepatu dengan bahan – bahan yang unik, dan menciptakan desain yang tidak biasa bahkan pada era itu. Putra sulungnya, Walter Steiger (Jr), mengambil inspirasi dari ayahnya dan mengambil alih bisnis keluarga. Walter Steiger (Jr) membuka butik di Paris pada tahun 1974, yang memperoleh popularitas besar.

Dia melanjutkan untuk memulai membuka toko di Milan, London, New York, dan lain sebagainya. Dengan keahlian konvensional, teknik yang unik, dan material berkualitas tinggi, membawa Walter Steiger berada di jajaran teratas dalam industri alas kaki mewah, yang dibuat tidak hanya untuk para wanita, namun juga para pria.

Baca Juga : Cara Menjaga atau Merawat Koper Louis Vuitton

➢ 6. Alexander McQueen
Alexander McQueen lebih seperti menghadirkan angin segar di masa kejayaan merek – merek mewah yang didirikan sekitar 25 tahun yang lalu. Dengan mengusung gaya desain yang eksentrik, McQueen mendapatkan popularitas yang terhitung cepat.

Alexander McQueen memulai karirnya sebagai desainer di Givenchy dan mampu menjadi perancang utama dalam waktu yang singkat. McQueen memutuskan untuk keluar dan memulai dengan merek yang mengatasnamakan dirinya, dan merancang berbagai hal yang belum pernah dibuat orang lain.

Banyak orang beranggapan bahwa dengan kita memiliki selera layaknya Lady Gaga, barulah kita akan merasa cocok dengan model aksesorinya yang berkesan ‘aneh’, tapi sepertinya hal itu salah. Cukup dengan sepasang sepatu karya McQueen yang dipasangkan terpisah akan menjadi investasi yang berharga.

➢ 7. Brian Atwood
“Kebebasan terletak pada keberanian.” Brian Atwood memulai mereknya dengan filosofi ini dan Dia sangat percaya bahwa, kita benar-benar tidak boleh berkompromi dengan apa pun yang kita lakukan. Brian Atwood adalah salah satu dari beberapa desainer yang dipekerjakan langsung oleh Versace di Italia.

Keberhasilannya, sukses mendorongnya untuk mengeksplorasi lebih lanjut. Begitulah cara dia memulai merek pertama yang memakai namanya pada tahun 2001 dengan memasang standar yang tinggi. Dia selalu percaya bahwa alas kaki akan menjadi paduan yang berseberangan dengan pakaian, namun tidak disangka, Brian Atwood bersedia untuk mulai merancang keduanya saat Versace menugaskan hal tersebut. Setelah itu, mereknya tidak hanya dikenal sebagai merek sepatu yang paling dicari, namun sebagai label yang merupakan pesaing kuat pada segmen barang – barang mewah.

➢ 8. Stuart Weitzman
Stuart Weitzman memulai karirnya dengan merancang sepatu untuk toko sepatu ayahnya yang bernama ‘Seymour Shoes’ di Massachusetts. Dia mengambil cuti untuk melanjutkan pendidikannya di Wharton School, kemudian bergabung kembali dengan bisnis keluarga. Namun, tidak lama kemudian, perusahaan itu dijual ke perusahaan Spanyol karena kematian ayahnya.

Tetapi, dia tetap melanjutkan mendesain untuk perusahaan selama dua puluh tahun dan membelinya kembali pada tahun 1994. Sepatunya mulai mendapatkan popularitas dan segera menjadi hal penting pada karpet merah. Yang paling populer adalah sepatu platinum dan bertatahkan berlian, yang bernilai lebih dari satu juta dolar.

Dia memegang rekor sebagai pembuat sepatu paling mahal, yaitu senilai 3 juta dolar. Dengan material yang digunakan dan desainnya yang langka,unik, dan bukan sesuatu yang pasaran. Stuart Weitzman diambil alih oleh Coach beberapa tahun yang lalu, dan dia dipertahankan sebagai desainer utama untuk merek tersebut.

➢ 9. Louis Vuitton
Nama yang tidak perlu diperkenalkan lagi! Louis Vuitton adalah merek kelas atas, yang tidak hanya menawarkan tas tangan, koper, aksesori, dan pakaian, namun juga sepatu. Merek ini berusia lebih dari 150 tahun, dan tumbuh secara konsisten. Louis Vuitton atau LV adalah contoh desain klasik berkelas, yang memberi kita penampilan mewah, tidak seperti merek terkenal lainnya.

➢ 10. Gucci
Gucci, merek Italia yang bernaung di Florence adalah andalan bagi para kalangan kelas atas. Terkenal karena kualitasnya yang sempurna dan barang – barang dengan material kulit mewah, yang dirancang secara khusus, mulai dari tas tangan dan kopor hingga berbagai macam tas dan sepatu.

Guccio Gucci menciptakan siluet, bermain dengan detail dan bereksperimen dengan material yang sangat dirahasiakan. Itulah sebabnya, mengapa detail horsebit pada sepatu loafers yang legendaris adalah sebuah gebrakan yang besar, dan masih tetap menjadi salah satu sepatu yang paling banyak dibicarakan dalam industri ini.

Sama seperti banyak merek mewah lainnya, Gucci telah melebarkan sayapnya ke pasar ritel selain juga memiliki gerai andalan dan toko eksklusifnya. Bahkan setelah sembilan puluh tahun, Gucci akan tetap inovatif dan selalu berada di garis terdepan.

Cara Menjaga atau Merawat Koper Louis Vuitton Cara Menjaga atau Merawat Koper Louis Vuitton

Louivuittonoutlet.net – Sebagai salah satu merek mewah paling dikenal saat ini, yang tetap menjadi jantung kota Louis Vuitton adalah perjalanan. Dari kereta stagecoaches dan kereta uap, hingga zaman keemasan samudera dan awal perjalanan udara, merek ini memiliki sejarah yang kaya dalam menyediakan bagasi untuk jet set dan petualangan. Berikut dibawah ini langsung saja kita bahas mengenai beberapa panduan cara menjaga atau merawat koper Louis Vuitton :

♦ Awal Dari Louis Vuitton yang Cerah
Tiba di Paris pada tahun 1837 setelah menempuh perjalanan dua tahun dengan berjalan kaki, Louis Vuitton magang sebagai pembuat kotak dan pengepakan di bengkel Paris yang terkenal, sebelum disewa oleh Eugenie de Montijo, istri Kaisar Napoleon III, yang merupakan katalisator untuk pendakiannya.

Dianggap sebagai kelahiran bagasi modern, bagasi pertama Vuitton dirancang pada tahun 1858 dan tidak seperti bagasi berbentuk kubah sebelumnya, kopernya rata dan persegi panjang, oleh karena itu lebih cocok untuk perjalanan. Pada tahun 1875, Vuitton membuat bagasi pakaian untuk pelancong jarak jauh: lemari vertikal dengan dua bagian yang pas. Kemajuan dalam transportasi dan perluasan perjalanan menghasilkan peningkatan permintaan akan batang Vuitton.

Pada tahun 1888, putranya Georges menciptakan Marque Louis Vuitton yang sekarang terkenal sebelum membuat pola LV monogram sebagai serangan balik terhadap pemalsuan, serta kunci lima kunci gelas anti pencurian yang terbukti anti pencurian pada tahun 1890.

Semangat perintis tetap lebih dari 100 tahun kemudian ketika Marc Jacobs memacu serangkaian kolaborasi mode dan seni di tahun 2000-an, menciptakan beberapa tas yang paling banyak disalin sepanjang masa. Kolaborasi termasuk: Stephan Sprouse, Takashi Murakami, Yayoi Kusama dan Jeff Koons.

♦ Contoh-contoh Utama dari Bagasi Louis Vuitton
Seratus lima puluh tahun kemudian, keterampilan dan keahlian dalam menghasilkan batang ini tetap sama. Meskipun tidak cocok untuk perjalanan modern, Ruth Davis, spesialis di Lyon & Turnbull mencatat bahwa “mereka tampak hebat sebagai potongan desain di rumah.” Ditampilkan dalam film independen 2007, Darjeeling Limited, trunk klasik meningkatkan status ikonik mereka untuk generasi baru. Berikut adalah beberapa contoh barang yang paling dicari oleh para kolektor.

➢ 1. Trunks
Trunks, atau malle dalam bahasa Prancis, adalah barang LV yang paling populer dan laku. Memvariasikan bentuk dan ukurannya, dengan desain dan bahan yang sangat indah, Max Brownawell, Spesialis Senior Aksesori Mewah di Heritage Auctions, mengatakan “barang yang paling diinginkan sering kali merupakan yang terbaru, serta batang lemari pakaian lama yang langka [atau batang tempat tidur yang kembali ke 1865] dan batang yang lebih tua dengan banyak stiker atau tanda perjalanan yang menarik. ”

Masih dalam produksi adalah Malle Courier 110, Malle Haute 110, dan Malle Fleurs – dan “berdasarkan pesanan khusus, Anda dapat memiliki lemari pakaian baru dan barang-barang khusus yang dibuat,” Brownawell menegaskan.

Steamer Trunk adalah salah satu yang pertama memiliki “desain flat top yang sekarang kami kaitkan dengan koper,” menurut Meg Randell, Desainer Tas dan Spesialis Mode di Chiswick Auctions. Dia menambahkan bahwa mereka “sering membuat empat angka, terutama jika mereka adalah contoh awal.”

Bagasi Lemari Pakaian (Malle Armoire) bervariasi dalam desain tergantung pada kebutuhan pemilik. Sebagai rumah lelang favorit, mereka sering menjual lebih dari $ 10.000. Bagasi kabin, bagasi Aero dan bagasi mobil bervariasi dalam ukuran dan bentuk tergantung pada jenis transportasi dan kapasitas penyimpanan. Batang yang lebih kecil dan lebih kecil yang dibuat untuk menyimpan aksesori biasanya berharga mahal saat dilelang.

Baca Juga : Sejarah Tersembunyi Louis Vuitton Terungkap

➢ 2. Koper
Awalnya dirancang untuk pasar Inggris dan pelancong kereta api, koper pertama dibuat pada tahun 1899. Masih dalam produksi, seperti model Alzer, koper mudah ditemukan di pelelangan. Tergantung pada ukuran, tinggi dan bahan luar, harga mulai dari £ 140 (~ $ 180) dan mencapai sekitar £ 1.500 (~ $ 1.935) untuk model hard-sided.

➢ 3. Kotak Kecantikan & Perhiasan
Karena kelangkaan dan kepraktisannya, jenis-jenis khusus ini sangat baik di pelelangan. Menurut Randall, kotak perhiasan “sangat komersial karena masih sangat berguna.”

➢ 4. Tas Traveling
Dibuat dengan kulit lembut, ini berada di ujung pasar yang lebih murah. Masih dalam produksi, variasi termasuk tas Cruiser, tas Steamer dan tas Keepall. Yang terakhir “selalu populer – tas olahraga yang bagus, atau tas akhir pekan,” kata Randell.

• Cara Mengotentikasi & Merawat Bagasi Louis Vuitton Anda
Pemalsuan yang marak berarti otentikasi sangat penting. Davies menyarankan bahwa “kualitas dan konsistensi karya selalu merupakan tempat yang penting untuk memulai. Perangko tanggal dan kualitas perangkat keras selalu bisa menjadi indikator yang baik. Saat ini banyak klien menyimpan dokumen dari saat potongan dibeli, atau diautentikasi ulang dengan merek yang relevan. ”

Tulisan dalam cap harus agak tipis, jelas dan sangat tajam. Selanjutnya, kode tanggal dapat ditemukan dalam tas yang dibuat setelah awal 1980-an, baik di dalam atau di dekat jahitan.

Untuk menjaga kondisi, Davies menyarankan bahwa ada metode sederhana yang bisa diambil, “seperti menggunakan kantong debu dan menyimpannya dengan hati-hati saat tidak digunakan.” Juga, Vuitton memiliki “layanan perbaikan yang berarti potongan diperbaiki dengan benar dengan cara yang paling simpatik.”

Untuk batang vintage yang disimpan di rumah, Brownawell mengatakan untuk “pastikan tidak terlalu lembab; ini akan menjadi penyebab utama degradasi dari waktu ke waktu. ”

Koper Louis Vuitton bukan hanya barang fesyen berharga tetapi simbol status elegan yang akan bertahan dalam ujian waktu. Sekarang dengan Nicholas Ghesquiere mengarahkan masa depan merek, versi modern dari malle pasti akan membuat jalan mereka untuk berada di puncak daftar keinginan kolektor.

Sejarah Tersembunyi Louis Vuitton Terungkap Sejarah Tersembunyi Louis Vuitton Terungkap

Louivuittonoutlet.net – Ketika perancang busana Louis Vuitton pertama kali tiba di Paris pada tahun 1837, kota itu belum dibuka sebagai ibukota mode dan desain. Tapi di sinilah Vuitton mendirikan kerajaan barang bawaannya dan, hanya seperempat abad kemudian, membuka toko barang-barang perjalanan terbesar di dunia di 70 avenue des Champs-Élysées. Kegembiraan Vuitton tetap menjadi bagian integral dari merek saat ini, yang ditulis oleh penulis Patrick Mauriès dan Pierre Léonforte dalam buku baru Louis Vuitton: The Spirit of Travel (Flammarion, $ 40) menggunakan foto arsip, iklan cetak, dan catatan sejarah. Perusahaan kemudian membuka toko di seluruh dunia, dari New York ke Beijing, sementara tas kulit khusus berkembang untuk memasukkan inovasi teknologi terbaru. Hari-hari ini, bepergian dengan karya Louis Vuitton adalah simbol akhir dari kecanggihan dan kemewahan, baik untuk petualangan jarak jauh dan perjalanan subway setiap hari.

Setelah membuka toko pertamanya di Paris pada 1854, Louis Vuitton memindahkan bengkelnya ke Asnières-sur-Seine, barat laut kota. Para pengrajin mulai membuat koper di sana pada tahun 1859, mengembangkan bagasi abu-abu asli dengan merek datar dan kemudian melengkapi ekspedisi Prancis dengan perlengkapan perjalanan. Di atas bengkel itu ada sebuah loteng tempat keluarga Vuitton tinggal agar tetap dekat dengan produksi. Kemudian mereka pindah ke rumah bergaya Art Nouveau di sebelahnya.

Baca Juga : 5 Tas Louis Vuitton Terpopuler

Pada tahun 1896, empat tahun setelah kematian Vuitton, perusahaan memperkenalkan kanvas monogram pertama. “LV” yang dipasangkan dengan bentuk geometris telah menjadi cetakan paling ikonik dari merek tersebut. Di sini, bagasi wanita di kanvas monogram, sekitar tahun 1906.

“Tempat tidur utama” legendaris ini dirancang untuk penjelajah Italia Pierre Savorgnan Brazza. Kasing terbuat dari seng dan tembaga – tahan terhadap debu dan kelembaban – dan datang dengan tempat tidur kamp terlipat di dalamnya.

Tokoh-tokoh modis seperti Coco Chanel, Hélène Rochas, dan keluarga Rothschild semuanya memakai koper Louis Vuitton. Lemari pakaian Duke dan Duchess of Windsor memiliki banyak ruang untuk mengemas pakaian mereka untuk acara-acara mewah selama perjalanan.

Merek ini telah bereksperimen dengan beragam lapisan utama selama bertahun-tahun: minyak rami abu-abu Trianon padat, kain bergaris merah, kanvas kotak-kotak Damier, dan kanvas monogram klasik.

Pajangan jendela etalase Louis Vuitton adalah bentuk seni mereka sendiri. Di dalam, toko-toko juga menyelenggarakan karya seni, termasuk karya seniman seperti Fabrizio Plessi, Xavier Wilhan, dan Olafur Eliasson.